1.2.14

sombong itu pilihan

Sedang menghitung hitung.

Dua investasi, dimana yang satu 3x lipat besar invest satunya, dalam jangka waktu sama yaitu 1,5tahun hanya menghasilkan balik modal sebesar 9%, sedang yang lebih kecil tadi telah balik sebesar 18%.
Tapi, besar 9% tadi hanya sekitar 55% dari yang 18%.

Nah lho..
Berasa pengen batalin yg gede, dijadiin yang kecil aja, roi bakal lebih cepet meski secara kasarnya dengan nilai lebih kecil.

Ih dulu kuliah skripsi tentang saham, di kenyataan kok ga sama ya.
Hehehe

Tapi dagang juga ga suka. Apalagi jualan.
Kayak kakak satu satunya, yang sudah beberapa kali nawarin "jual aja ke ibu2 di sekolah marvel" ke adeknya ini.
Uda tau adeknya paling anti ngumpul sama ibu-ibu (alasan di paragraf selanjutnya) masih aja optimis si adek mau. Aneh..

Biar kujelaskan sedikit.
Ada empat jenis ibu-ibu menurut saya. Satu, yang punya ketrampilan, tapi kurang otak. Dua, ga punya ketrampilan, tapi punya otak. Tiga, punya ketrampilan, dan punya otak. Empat, ga punya dua duanya.
Dari itu semua, saya paling benci sama yang nomer empat.
Tau kan, jenis pertama, katakanlah jago masak, pintar mengurus rumah tangga, tapi kurang tanggap tentang pengetahuan umum, apalagi khusus. Mereka maaih bisa diteladani, bahkan dikagumi untuk dedikasi dan keahliannya.
Jenis kedua, tipe perempuan cerdas, jago dalam kerjaan, meski kurang bisa dalam urusan "kodrat" menurut masyarakat kita pada umumnya. Well, jadi wanita super memang ada harganya. Saya masih respek akan kemampuan mereka, apalagi yang emang pintar dan tidak takut menunjukkannya.
Jenis ketiga, punya segala keterampilan dan masih punya minat akan ilmu pengetahuan. Saya sedang belajar menjadi jenis yang ini, meski masih jauuuuuuhhhhh dari yang diharapkan.
Jenis terakhir, jenis yang paling banyak ditemui disini. Uhuk..
Bayangkan, sekali aja nungguin anak pulang, jemput kecepeten ya, ibu2 pada duduk, mau ga mau denger dong obrolan mereka. Ngomongin artis indonesia... Penting gak sih..
Lebih herannya lagi, mereka ngomonginnya seakan akan benar benar kenal sama tuh artis, dan keluarganya. Dan dibahas cukup lama, dengan pro dan kontra plus "info"2 lainnya yang di tivi aja mungkin ga ada, wkwk..
Debat kusir sih masih okelah, itung2 asah otak, sama mulut.
Lha ini..
Anggaplah ini bagian kurang mempergunakan otak ya.
Soal ketrampilan, widih jangan ditanya.. Hahaha.. Saya menilai dari ucapan seseorang, dari caranya berpendapat, caranya menanggapi, dan terakhir tapi ga kalah penting, dari make up dan penampilan.
Gampangnya, makin menor make up-nya, makin bodoh orangnya.
Makin menor bajunya, makin turun kelasnya.
Makin norak ucapannya, makin kurang terpelajar pendidikannya.
Bukannya bilang pendidikan sama dengan gelar lho ya, tapi "pendidikan" otaknya.

Dan begitulah. Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik.
Sama angkuh demi kebaikan juga sih :D
Iya kalo dulu, berusaha diterima semua orang. Berusaha mengerti, menanggapi orang sebagaimana mereka mau ditanggapi. Wah sebagai orang super sensi itu mudah sekali, wkwk (toss untuk sesama sensi diluar sana) tapi tau nggak, hal tersebut bikin capek. Dan ga ada gunanya juga.
Cari teman, cari yang selevel, bahkan yang lebih tinggi lagi.
Untuk level dibawah kita, jangan jadikan teman. Cukup jadikan kenalan :)
Semakin pandai, semakin mengagumkan.
Semakin terampil, semakin mengesankan.

Balik ke topik awal. Dagang itu butuh kontak dengan banyak jenis manusia, termasuk ibu ibu, bapak bapak, yang macamnya banyak. Masih ok kalo mereka datang mencari, tapi gak ok banget kita datang menawarkan.

Ingat satu memori masa kecil, ikutan papa ke pasuruan, waktu libur sekolah, jalan di pusat kota dari toko ke toko.
Liat di salah satu toko, papa saya berdiri di pinggiran, diantara lalu lalang pelanggan toko yang ramai.
Si empunya toko cuek aja. Anaknya yang jaga kasir juga, padahal jauh lebih muda.
Papa saya bukan sales. Datang kesana untuk ambil pelunasan barang pabrik. Nagih utang. Sesuai perjanjian. Hari dan tanggal yang sudah ditentukan.
Dan diperlakukan seperti seorang pengemis yang sedang minta uang.
Saya masih kecil itu, masih SD.
Ingat selanjutnya di mobil bertanya pada papa, kenapa kok dibiarkan menunggu lama kayak gitu ga dianggap.
Kata papa, ya itu namanya orang kerja. Nagih apa yang uda jadi hak aja susahnya kayak gitu. Ya beginilah.
Waw..
Sejak itu sudah nancap di hati, ga bakal jadi sales.
Produsen aja bisa diperlakukan kayak begitu, apalagi salesnya.

Semakin besar, semakin membuka mata.
Pada dasarnya, manusia itu baik. Tapi lebih besar perbandingannya, manusia itu brengsek.
Hahaha

Jadi, masih bimbang antara menarik inveat untuk dipindah, ato dibiarkan saja, toh juga belum ada rencana kerja apa apa.
Ah, apa ngelamar jadi sales ya..? Wkwkwk..

God, bless me please, bless my heart, bless my soul, and bless my mouth..
Amen.

Tidak ada komentar: